Asuransi Bukan Prioritas Utama Masyarakat Indonesia

Reporter: Hamzah Farihin

Gedung FSH, UIN Online – Kesadaran masyarakat Indonesia untuk berasuransi masih sangat rendah. Bahkan, pada masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas pun, asuransi masih belum menjadi prioritas utama. Padahal, asuransi merupakan aset untuk masa depan keberlangsungan hidup diri, anak, dan cucunya, serta menjadi cadangan ketika tertimpa bencana.

“Walaupun dilihat dari gaji per bulannya cukup besar, tetapi mereka cenderung menghabiskannya dalam waktu sebulan saja dan bahkan kurang dari sebulan gaji tersebut sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari atau membayar hutang,” kata Fund Manager Equity Divisi Investasi Dana Pensiun Bank Indonesia, Elsa Febiola Aryanti SE MSCIS, dalam acara Sharia Insurance Tranning 2010 bertema “Perencanaan, Peluang dan Resiko Investasi  Syariah Masa Kini Di Industri Asuransi Syariah” yang diselenggarakan BEMJ Asuransi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) di Ruang teater lantai II, Selasa (15/6).

Elsa melanjutkan, dalam Indikator Kecerdasan Financial (IKF), asuransi atau menabung untuk diri sendiri harus dialokasikan paling awal, sebelum kebutuhan konsumsi, hutang, maupun lainnya. Namun yang terjadi di lapangan, alokasi untuk menabung atau asuransi justru ditempatkan paling akhir, itu pun jika masih ada uang yang tersisa.

“Perencanaan keuangan  yang baik seharusnya gaji bulanan dialokasikan 20 persen untuk ditabung. Sebesar itu saja sudah cukup. Porsi ini khusus untuk asuransi, dana darurat, tabungan dan berinvestasi dengan tujuan finansial di masa yang akan datang,” kata alumni strata satu Universitas Parahiyangan itu.
Menurut Elasa, menabung atau berasuransi sebaiknya dilakukan di beberapa lembaga, sehingga jika lembaga keuangan tertentu sedang bermasalah, dapat mengambil dari lembaga keuangan lainnya. Di samping itu, berinvestasi yang baik juga harus kontinu. Hal ini baik untuk menjaga gaya hidup dan praktek perencanaan investasi.

“Gaji 20 persen yang dialokasikan untuk menabung tersebut juga jangan disimpan dalam satu instrumen. Kalau bisa menerapkannya dengan keputusan manajemen portofolio. Karena masyarakat kita itu lebih saving minded,” tuturnya. []

www.uinjkt.ac.id

One comment Add yours
  1. saya tidak tahu pak kalo perusahaan ttrtueup tidak bisa dihitung, saya memakai alat ukur Economic Value Added (EVA) untuk mengukur kinerja keuangan bank syariah, saya memakai rumus yang diterapkan Toto prihadi tentang pemakaian beta saham dari bank konvensional, sedangkan sya memakai 3 bank syariah yaitu bank syariah mandiri, bank syariah mega indonesia dan bank muamalat. Lalu sya bandingkan kinerja keuangannya dengan bank konvensional sebanyak 7 bank,saya bingung pak, apakah saya bisa memakai bank muamalat sebagai sampelnya?lalu untuk saran bapak bagaimana tentang skripsi saya ini? apakah harus mengganti sampel atau bagaimana pak?terima kasih untuk bantuannya pak,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *