Diwarnai Ibu…

Saya termasuk orang yang beruntung diwarnai oleh banyak figur Ibu dalam hidup saya…ada Mama, Mama Ai, Mamim, Ninin dan Ike. Mereka adalah para Ibu dan Nenek yang kemuliaannya dikaruniakan Allah pada saya…yang kasih sayangnya telah dicatat Allah di tempat terdekat dari singgasanaNya…

Mama : Graduate With Honor dan Bisa Masak Buat Lebaran…

Saya belajar segalanya dari Mama. Dari bagaimana menyikat gigi sampai memakai lipstik untuk pertama kali. Dari cara jalan di catwalk sampai meniru resep Ayam Panggang Bumbu Rujak andalan Mama. Menerima saya apa adanya yang lebih suka mengenakan jeans dan tas ransel, tapi juga berkeras kalau harus bisa mengenakan “samping” ( kain panjang batik dalam bahasa Sunda ). Memaklumi kalau saya tidak suka berdandan tapi mati – matian mengajari saya facial, manicure dan pedicure secara mandiri. Selalu mendukung kegemaran saya untuk membaca dan belajar…sebagai seorang guru, rapor yang bagus merupakan syarat yang tidak usah diungkapkan lagi buat Mama…hal tersebut adalah persyaratan mendasar.

Mama rela melepas ketika saya mengikuti pilihan hati ribuan kilometer ke negeri orang. Walaupun sangat pasti Mama khawatir..tetapi bukan Mama namanya kalau tidak punya suara berani di setiap telepon jarak jauh kami. Pertanyaan mendasarnya selalu 2 hal…bagaimana saya mengurus rumah dan bagaimana sekolah. Bagi mama, sama pentingnya dapat nilai A dan menjadi manajer rumah yang baik. Sama pentingnya bisa Java Programming dan bisa membuat Sambal Bajak yang enak.

Yang tidak bisa saya lupakan adalah pada saat akhirnya suara Mama melunak…pada saat dengan kegembiraan luar biasa saya mengabarkan kelulusan master saya…alhamdulillah bisa graduate with honor. Dan suara Mama semakin bersinar bahagia ketika mendengar bahwa saya…anaknya yang tomboy dan kadang kurang meyakinkan sebagai perempuan…bisa memasak Ketupat, Rendang, Sayur Buncis, Pepes Ati Ayam dan Rujan Asinan untuk Lebaran nun jauh di negeri orang. Buat Mama, kedua hal itu sama pentingnya…sama bobotnya. Dengan caranya, Mama mendidik saya untuk membumi sebagai perempuan..mewarnai saya…

Mama Ai : Sutra Dewangga Sepanjang Masa….

Mama adalah sutra…Mama identik dengan sutra. Lembut, sabar, mengerti. Tidak pernah saya temukan lagi orang seperti Mama. Mama tidak pernah marah. Dalam keadaan sedih sekali, cuma satu yang Mama lakukan…mengambil air wudhu dan sholat. Tindakan yang cukup membuat siapapun yang membuat Mama sedih menjadi gemetaran tidak karuan…

Dari Mama saya belajar seni mencintai dan berbagi. Bagaimana menyelesaikan masalah dengan penuh maaf, kelembutan, kesabaran dan keyakinan yang tidak tergoyahkan pada kuasa dan karunia Allah. Mama yang memberikan saya keyakinan, pada saat saya tidak yakin pada kemampuan diri saya sendiri. Setiap kali saya ragu, Mama selalu bilang ” Bisa…Febi pasti bisa…Mama percaya”. Bagi saya, cukuplah ucapan itu sepertu obat dewa yang menghapus semua ragu. Yang membuat semua lelah tidak terasa dan jadi tenaga pendorong luar biasa.

Tiga hari sebelum Mama berpulang, kami berbicara lewat telepon seperti yang sering kami lakukan… Mama menitipkan 2 hal pada saya. Yang pertama, hidup harus banyak bersyukur karena pada akhirnya tidak ada hal yang perlu untuk disesali. Semua ketetapan Allah itu baik. Yang kedua, kepada siapapun, ingat selalu kebaikan mereka…terutama justru pada saat mereka menyakiti hati kita…berusahalah semakin keras untuk mengingat kebaikan – kebaikan mereka pada kita…

Pada saat Mama pergi…harum semerbak di seisi rumah…alam seperti mengerti, salah satu kekasih Allah akan bertemu dengan Yang Maha Penyayang…
Hati tertikam karena pedih…saya tidak sempat bersujud di kaki Mama dan berbakti sebagai anak untuk terakhir kalinya. Justru Mama yang sampai terakhir kalinya selalu dan selalu…memberi contoh tentang kelembutan dan keindahan…jadi sutra dewangga sepanjang masa…

Mamim :” Lawan, Mbak…jangan pernah takut !!!”

Mamim wanita perkasa luar biasa. Cerdas, praktis, pemberani. Apapun Mamim bisa. Sering kita dibuat tercengang – cengang….kok bisa Mamim melakukan semua itu ? Hebatnya lagi, Mamim melakukan semua itu dengan tanpa beban sama sekali…selalu gembira dan berbinar – binar.

Tahun 2005, saya pindah ke rumah baru. Senang luar biasa, akhirnya bisa punya rumah sendiri. Hari ke-5 di rumah baru, dapat musibah. Kebongkaran alias kemalingan. Innalilahiii….
Saya masih teringat betapa bergetarnya perasaan saya melihat pintu yang baru dilinggis, semua laci dibuka, rumah acak – acakan diaduk – aduk. Hampir pingsan kalau tidak ingat bahwa saya seorang yang harus melapor ke polisi. 1000 pertanyaan dalam hati…tega sekali…tega sekali….

Hari – hari berikutnya saya membereskan TKP. Setelah semuanya beres, Mamim datang menjenguk. Naluri ibu tidak bisa dibohongi…Mamim pastinya tahu…saya gentar…saya takut…saya sedih.
Segera Mamim berkata pada saya. Singkat, padat dan jelas. “Jangan pernah takut , Mbak….LAWAN !!!…ini rumah yang diperjuangkan dengan keringat, darah dan air mata…LAWAN !!!”.

Kata – kata Mamim memantikkan keberanian dalam hati saya. Hidup tidak selalu berhias kesenangan. Tapi kemalangan yang diterima dengan ikhlas akan jadi jalan bagi lebih banyak kebaikan. Allah Maha Besar mendidik saya di tangan wanita – wanita yang luar biasa. Mamim luar biasa. Terimakasih ya Allah…

Ninin : ” Dede, Sing Kuat Muntang…Hujan Ge Aya Raatna… ” (Tetap berpegang teguh…hujan pun ada hentinya)

Ninin adalah ibunda dari ayah saya. Seorang guru didikan jaman Belanda. Sebagai anak seorang kiyai dan priyayi, beliau salah satu wanita pribumi yang mendapatkan kesempatan untuk bersekolah pada jamannya. Beliau pencinta bahasa. Fasih berbahasa Belanda, Inggris, Sunda dan Jawa. Handal dalam segala hal dari mulai melukis, menulis sampai memasak makanan Eropa. Kecantikan beliau kadang membuat kita yang muda – muda jadi malu.Kecantikan alami yang dibentuk oleh hati yang luar biasa baik.

Ninin adalah batu karang bagi kami semua. Matriach dalam keluarga kami. Wanita yang khatam belajar kerasnya kehidupan…membesarkan 9 orang anak – anaknya di usia yang masih sangat muda dan berdiri tegak sampai akhir.

Saat badai menghampiri kehidupan saya, Ninin bukannya tidak mengerti kesedihan dan kepedihan. Beliau sangat paham dan sangat arif. “Aos Surat Ar – Rahmaan…Gusti mah moal ngahutangkeun..Dede kudu sing kuat muntang…hujan ge aya raatna”. Itu kata – kata Ninin pada saya…butir – butir berlian yang sampai saat ini saya junjung tinggi…yang saya guratkan dalam hati dan pikiran.

Membaca Surat Ar- Rahmaan , agar saya menyadari..dalam kesedihan, kemalangan dan kepiluan…apabila dihitung – hitung…nikmat Allah mana lagi yang saya dustakan ? Semua dalam pengaturan yang sempurna..hanya sabar yang saya perlukan untuk sampai kepada hikmah dan pengertian dari semua ini.

Setiap kali, perkataan Ninin terbukti benar…sing kiat muntang ka Gusti Allah…hujan ge aya raatna..

Ike : ” Jadi awewe teu meunang sieun..!!! ” (* Jadi perempuan tidak boleh takut )

Ike adalah ibunda dari ibu saya. Kenapa dipanggil Ike ?…heheheh…ada cerita tersendiri. Beliau menikah muda…sangat muda…sehingga pada saat berusia 36 tahun telah menjadi seorang nenek. Ike adalah dari NiKe…kependekan dari Nini Kecil…heheheh…

Ike adalah nenek yang funky. Senang traveling dan business woman yang handal. Masih mengendarai mobil sendiri dan senang ngebut. Orisinil, punya gaya sendiri dan unik. Tanpa sadar, beliau lah yang mengajarkan saya hang out dan ngopi. “Sumber Hidangan” di jalan Braga adalah tempat favorit beliau untuk hangout…heheheh. Kami akan menunggu roti panas dengan sabar dengan segelas kopi susu yang masih mengepul – ngepul.

Ike juga pemberani. Travelling sendirian…naik haji sendirian…menjalankan bisnisnya mulai dari Cirebon sampai Hongkong. Gaya Ike adalah gaya bebas. Memasak tanpa takaran, tapi enak luar biasa. Selalu menemukan hal berbeda yang membuat apapun yang dibuat dan disentuh punya ciri sendiri. Ike dengan caranya telah menemukan ” 1 degree of separation”…heheheh

Ike juga terus terang.Sering tanpa tedeng aling – aling. Pendapatnya selalu jujur dan apa adanya. Sebagai seorang istri tentara yang kenyang dibawa mengungsi pada jaman Belanda dan Jepang, hanya satu nasihatnya pada saya…yang kebetulan jadi cucu perempuan paling besar…”Jadi awewe teu meunang sieun…kudu wani !!!” ( * Jadi perempuan tidak boleh takut…harus berani )

Pada saat saya memilih untuk terbang ke benua lain untuk mengikuti pilihan hati pada saat itu, Ike satu – satunya yang melepas saya tanpa air mata. Malah Ike yang begitu antusias menceritakan pada saya hal – hal seru dan asyik apa yang akan saya temui di negeri orang. Buat Ike, hidup adalah petualangan yang luar biasa menggembirakan.

Ike juga punya semangat hidup yang tinggi. Pada saat berjuang melawan kanker hati…lewat telepon jarak jauh…Ike masih dengan semangat minta didoakan supaya sembuh dan akan terbang menyusul saya ke Amerika. Beliau pun…dengan susah payah..masih berusaha mengajari saya resep andalan beliau…Sate Maranggi…yang merupakan pelajaran saya yang terakhir dari Ike.

Masih terngiang – ngiang di telinga saya…dan merupakan jawaban dari rahasia masakan unik Ike selama ini…”Ari masak teh kudu jeung hate..kudu bungah ari keur masak teh nya, Neng…beda engke hasil na” (* Masak harus dengan hati..harus dalam keadaan hati yang gembira…pasti nanti beda hasilnya )

Lewat pelajaran terakhir Ike, beliau mengajarkan pada saya….untuk mengerjakan segala sesuatu hal dalam hidup saya dengan sepenuh hati…dan dengan hati yang gembira…karena hati yang gembira itulah yang akan jadi roh dan jiwa dari semua yang dihasilkan.

Tahun 2008, saya berkesempatan untuk napak tilas perjalanan bisnis berlian Ike ke Hongkong. Di tengah kerlip dan gemerlapnya perhiasan berlian…saya melihat Ike di sana…berlian yang paling cemerlang diantara yang ada..tersenyum bahagia…dan saya akhirnya mengerti mengapa jadi perempuan tidak boleh takut…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *