Ibu, Jangkar Hidupku…

Saya mengakui…baru setelah saya beranjak dewasa dan dihadapkan pada kemungkinan bahwa suatu saat akan menjadi seorang ibu, baru saya belajar banyak tentang Mama…

Baru saya bisa lebih menghargai betapa besar pengorbanan yang sudah diberikan supaya saya bisa tumbuh besar seperti sekarang. Betapa sering saya mengesalkan hatinya….Betapa sedikit saya menyenangkan hatinya. Ada tahun – tahun yang sulit dalam hubungan kami. Tetapi sejarah sudah tertulis dan saya harus belajar untuk melewati hal itu. Mudah – mudahan jadi pengingat untuk terus menerus membuat Mama senang….

Mama madrasah saya yang pertama…betul – betul sumber pelajaran hidup saya…
Mengajarkan saya banyak hal…bahwa jadi perempuan harus serba bisa. Harus bisa survive dalam segala keadaan. Dan yang paling penting…belajar setia pada setiap pelajaranNya….terus berpegang tanpa ragu…pada saat yang lain sudah meninggalkan….

Setiap malam selama bertahun – tahun…dongeng sebelum tidur saya adalah tentang Siti Masyitoh…budak Fir’aun yang menolak untuk menyembah Fir’aun pada saat telah datang hidayah kepadanya. Sampai akhirnya Siti Masyitoh dimasukkan ke dalam wajan berisi minyak mendidih, dia tetap tidak bergeming….Allah satu – satunya Tuhan….

Menurut pengakuan Mama…setelah saya dewasa….cerita tersebut diulang – ulang karena memang Mama tidak punya perbendaharaan cerita lain…hehehehehe….
Tapi dalam pandangan saya….Allah Maha Mengatur…karena dalam kehidupan saya…berkali – kali dongeng tersebut jadi penyelamat jiwa…pada saat ragu hinggap dan dihadapkan pada keputusan – keputusan yang sulit…
Mama dan Siti Masyitoh satu – satunya yang ada dalam ingatan saya….

Mama juga adalah tempat pulang…saat yang lain membuat penat….pulang ke rumah selalu menyembuhkan. Lahir bathin menjadi paripurna kembali. Utuh kembali. Mama selalu punya lem ajaib yang akan merekatkan keping – keping hati yang berserak…selalu punya obat dewa untuk menyembuhkan segala sakit dan perih…

Saat badai datang…dan kapal mulai oleng…Mama adalah jangkar yang menjaga agar kapal tidak karam diterjang ombak. Mama adalah jangkar yang menahan semua hempasan ganasnya lautan. Dan setelah itu, Mama jadi angin yang akan mendorong layar kembali terkembang….kapal melaju kembali…

Saya fikir…kita…tanpa terkecuali….mengakui….tanpa terbantahkan…bahwa sampai kapanpun tidak akan sanggup kita membalas apapun yang Ibu, Mama atau Bunda kita berikan. Tidak ada jumlah harta yang dapat menyetarai pengorbanannya…tidak ada jumlah doa cukup untuk mensyukuri kehadirannya…bagaimana bisa kita menandingi kesaksian setiap tetes darah, keringat dan air mata ibu…yang sudah dituliskan di langit singgasanaNya….yang sudah lebih dulu kilaunya menghiasi taman – taman surga ?

Kalau ada doa yang dapat sedikit menyetarai kemuliaan Ibu, Mama atau Bunda, mungkin ini doa yang dapat kita panjatkan….

” Ya Allah, bacaan apapun yang kami baca dan Engkau sucikan…
Shalat apapun yang kami laksanakan dan Engkau terima…
Zakat dan sedekah apapun yang kami keluarkan dan Engkau sucikan dan kembangkan…
Amal shaleh apapun yang kami kerjakan dan Engkau ridhai…
Maka mohon kiranya ganjaran untuk kedua orang tua kami lebih besar dari ganjaran yang Engkau anugerahkan kepada kami…
Bagian mereka lebih banyak dari yang Engkau limpahkan kepada kami…
Serta perolehan mereka lebih berlipat ganda dari perolehan kami…
Karena Engkau Ya Allah telah berwasiat kepada kami agar kami berbakti kepada mereka…
Dan memerintahkan kami mensyukuri mereka…
Sedangkan Engkau lebih utama berbuat kebajikan dari semua makhluk yang berbuat kebajikan…
Serta lebih wajar untuk memberi kepada siapapun yang diperintah” memberi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *