“Setengah Mati”…

“…you are in the stage of “setengah mati” not because of hard work or difficulties in life. You are in that stage if you stubbornly refusing to see hikmah in Allah’s decisions in your life…good Monday, good people :-)”

Status situs jejaring sosial Facebook ini saya tulis setelah pembicaraan semalam yang selalu menyenangkan dan bergizi dengan kakak saya, Teh Poppy. Kami sering berada dalam satu gelombang dalam menyikapi banyak hal yang terjadi dan kami sepakat bahwa salah satu obat manjur mendapatkan solusi dari banyak hal adalah “kecerdasan” untuk menangkap hikmah dari setiap peristiwa yang Allah berikan dalam hidup.

Kata – kata “life live to the fullest”, “enjoy life”, “living at the moment” dan lain – lain sejenisnya sering kita dengar. Kata – kata itu boleh jadi muncul karena keinginan manusia untuk hidup sehidup – hidupnya dan menikmati setiap detik kehidupan dengan semaksimal mungkin.

Sedangkan kata – kata “setengah mati”, sering sekali dikaitkan dengan kelelahan karena bekerja atau pun karena merasa sedang berada dalam kesulitan dan permasalahan hidup yang dirasa berat. Padahal sebenarnya, kita pun mungkin sering berada di keadaan ‘setengah mati”, saat tak lelah bekerja, dan saat hidup dirasa mudah.

Bagi saya, yang namanya move on itu adalah bisa melewati proses peka terhadap peringatan yang Allah berikan, selembut atau sekeras apapun peringatn itu diberikan. Baik saat peringatan itu dibungkus oleh kesenangan, maupun saat peringatan itu dibungkus oleh kesulitan.

Saya meyakini bahwa hikmah dari Allah itu sejatinya adalah pelajaran untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Semua orang, karena kasih sayang Allah, mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik, syaratnya adalah bisa secara “cerdas” menangkap hikmah yang Allah curahkan dalam setiap langkah kehidupan yang kita jalani.

Cerdas disini termasuk mau menerima kesalahan, sadar akan kesalahan, tidak malu untuk mengakui kesalahan, mau untuk merubah cara yang tidak sesuai dengan yang Allah gariskan, beristighfar akan segala kekurangan, tidak gengsi untuk berubah karena takut pandangan manusia dan selalu mencari solusi pada Allah.

Kita sering bosan pada hidup yang begitu – begitu saja. Kita sedih kalau ekonomi tidak maju, usaha seret, suami atau istri kurang pengertian atau anak tidak menurut. Tapi kita sering juga lupa untuk menangkap hikmah, karena semua permasalahan yang terjadi diatas boleh jadi adalah hasil dari kita tidak peka terhadap hikmah yang telah Allah hadirkan di depan mata. Kita merasa hidup sungguh sulit dan setengah mati karena  memang kita sedang berada di situasi iman yang “setengah mati” pula…

Atau mungkin justru kita senang karena hidup mulus, rejeki lapang, pasangan ideal, anak berprestasi, karir maju dan hal – hal lainnya. Kita wajib bersyukur, tapi juga tidak lupa untuk tetap beristighfar , jangan sampai justru nikmat yang Allah berikan itu malah membuat kita jauh dari kebergantungan kita pada Allah. Merasa bahwa semuanya adalah karena hasil kerja keras dan usaha kita sendiri. Kejumawaan ini pun adalah situasi “setengah mati”, karena Allah tidak hadir dalam hati kita.

Bagi saya, hidup yang sehidup – hidupnya adalah hidup yang sadar bahwa saya berada dalam satu alur kisah yang Allah sudah gariskan. Dan bahwa hidup akan semakin hidup kalau saya bisa menangkap sebanyak mungkin hikmah dari setiap detik perjalanan waktu yang Allah pinjamkan sampai saat ini. Menangkap hikmah, memperbaiki apa yang dilakukan, selalu kembali kepada Allah untuk solusi.  Inilah definisi “live life to the fullest”  menurut saya, karena tanpa kesadaran untuk menangkap hikmah, kita seperti hanya setengah hidup dan setengah mati.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *