Bertahan Sederhana

Saat penghasilan meningkat, sering yang pertama naik adalah keinginan – keinginan.  Beberapa keluhan yang sering ditemui adalah penghasilan naik, tapi tetap merasa kurang terus. Atau penghasilan naik, tapi tetap tidak bisa menyisihkan lebih untuk menabung atau berinvestasi. Atau penghasilan naik, tapi tetap merasa degdegan, takut uang yang ada tak cukup untuk penuhi kebutuhan setiap bulan.

Saat individu  / keluarga sedang berada di posisi sedang berjuang untuk memenuhi kebutuhan yang mendasar, biasanya semangat untuk “naik kelas” ke tingkat ekonomi yang lebih baik masih besar. Fokus pada tujuan yang saat itu mungkin masih sangat sederhana : cukup memenuhi kebutuhan bulanan, tidak keteteran di akhir bulan, tidak harus berhutang untuk penuhi kebutuhan. Karena masih fokus, biasanya masih rajin pula memantau keluar masuk uang. Catatan rapih, uang terpantau digunakan untuk apa dan pengeluaran penuh pertimbangan.

Nah, godaan mulai muncul saat justru sudah merasa naik kelas. Penghasilan bertambah terus, keterbatasan uang tidak terlalu mencekik, tanpa usaha besar pun sepertinya selalu ada kelebihan uang , saat belum perlu, eh tiba – tiba ada uang masuk…seperti dahaga kena air es…cesss… dingin rasanya 🙂 Berakhir sudah hari – hari pusing karena uang. Tapi di balik itu, mengintip pula bahaya lain untuk keuangan, saat kita tidak waspada.

Bahaya itu adalah lupa untuk bertahan sederhana. Dan ini, jangan khawatir, hampir dialami semua orang yang mengalami peningkatan penghasilan, setelah perjuangan untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan mendasar. Saat penghasilan meningkat, maka, apabila tidak disadari dari awal, pengeluaran untuk hal  – hal yang konsumtif, bukan primer dan bersifat mempermudah akan naik secara signifikan. Dan, inilah yang akan mengakibatkan sepertinya berapaun penghasilan naik, tidak akan mengejar pengeluaran yang diam – diam naik pula.

Contohnya, kalau saat berjuang dulu, mau makan di restoran pasti pikir – pikir. Nah, saat sudah punya uang ekstra, maka makan di restoran menjadi hal yang dirasa harus. Karena selama ini sudah “puasa”, karena selama ini sudah ditahan – tahan, karena selama ini rasanya sudah “menderita” 🙂  Saat berjuang dulu, baju cukup beli yang terasa pantas saja untuk badan dan kantong, saat sudah ada kelegaan uang, mendadak harus bermerek. Dengan penghasilan yang meningkat, sering kita merasa harus berada di gaya hidup tertentu, gaya hidup  kelas ekonomi tertentu.

Mengelola gaya hidup adalah bagian penting dari mengelola keuangan dan keseluruhan kehidupan kita. Bukan hanya semangat untuk mendapatkan kehidupan keuangan yang lebih baik akan tetapi juga kesadaran untuk memilih gaya hidup yang tepat bagi kita. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah hidup justru di bawah kemampuan keuangan . Tetap sederhana, tidak berlebih – lebihan untuk hal yang bersifat memudahkan dan berfikir hal – hal yang esensial. Di tengah – tengah arus belanja konsumtif, dan kecenderungan gaya hidup diatas kemampuan, bertahan sederhana merupakan suatu seni kehidupan yang perlu untuk diasah terus menerus.

 

 

One comment Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *