Sammy…

Sammy, iguana kami, mengingatkan saya tentang kematian dan amal.  Sebenarnya Sammy adalah hewan peliharaan suami saya @yoga_bagong. Sebenarnya,  saya sangat takut dengan hewan reptile dan keluarga besarnya. Dan pada awalnya,  interaksi saya dengan Sammy sangat terbatas. Saya lebih memilih untuk membersihkan kandang Sammy daripada harus menyentuhnya. Berdekatan pun saya takut. Perasaan ini pun sepertinya dimiliki Sammy pada saya. Ada aura “permusuhan” diantara kami berdua. Sammy selalu mengibaskan ekornya saat saya mendekat. Semakin Sammy kurang ramah pada saya, semakin ilang feeling lah saya pada Sammy…heheheh…

Sepulang saya dari Inggris, Sammy mendadak bermasalah dengan kesehatannya. Dimulai dengan sakit mata, lalu saya amati badannya lebih kurus, lalu diikuti dengan hilangnya nafsu makan. Kangkung, sawi, dua makanan kegemarannya sama sekali tidak disentuh. Sehari saya biarkan, tapi hari berikutnya, keadaan Sammy makin memburuk. Saya mulai jatuh kasihan….

Saya tidak punya pengalaman memelihara iguana. Perlengkapan pemeliharaannya pun di rumah kami masih terbatas, karena Sammy baru tinggal dengan kami sekitar 3 bulanan. Kasihan karena matanya sakit dan tidak bisa melihat, dan karena tidak mau mengambil resiko memberikan Sammy obat mata manusia, maka air zam – zam lah yang menjadi andalan saya.  Kapas yang dibasahi air zam – zam saya oleskan ke mata Sammy….”ya, Allah…jangan biarkan makhlukmu ini terlantar dan sakit dalam pemeliharaanku…sembuhkan, ya Allah….”

Teryata masa krisis Sammy baru dimulai. Mogok makan dan minum. Ditambah lagi, suami @yoga_bagong mendadak dangdut harus lokakarya seminggu penuh, meninggalkan saya dengan Sammy yang masih kurang ramah pada saya….hiks. Tidak ada pilihan lain, saya harus memberanikan diri untuk merawat Sammy…OMG ! Di kepala saya berkelebatan cerita tentang  seorang yang dikisahkan penuh dengan dosa,  yang atas ijin Allah masuk surga karena memberi minum pada seekor  anjing yang kehausan.  Batin saya ,“Ya, Allah…..kalau merawat hewan yang sedang sakit ini adalah amal terakhir yang diijinkan pada saya, dan kemudian saya biarkan hewan ini mati karena saya terlalu takut untuk merawatnya, maka saya boleh jadi saya melewatkan kemungkinan surga…..”

Maka dengan memberanikan diri saya merawat Sammy. Saya search internet tentang bagaimana merawat bayi iguana seperti Sammy.  3 hari saya tidak meninggalkan Sammy, memindahkan pekerjaan dan meeting  via online dan ke rumah. Saya beri minum lewat pipet, saya suapi sayuran, saya sentuh , saya elus – elus. “Ini makhlukMu ya, Allah…tundukkanlah dia untukku, beri kesehatan padanya, beri hikmah padaku…”

Sammy berangsur – angsur menjadi ramah pada saya seiring dengan kesehatannya yang membaik…dan sekarang ini Sammy sangat manja pada saya….setiap pagi selalu harus disentuh, diajak bicara, dan kadang disuapi…kami sudah akrab satu dengan lain….buat Sammy, saya adalah mommy yang selalu dicari setiap pagi….ah, so sweet…heheheh….

Saya tafakuri  apa hikmah di balik hal ini. Karena hikmah besar bisa ada dibalik peristiwa yang dianggap kecil. Dan hikmah kecil pun bisa luput kalau kita tidak menjalaninya dengan kesadaran bahwa ada pelajaran berharga di setiap peristiwa. Betapa seringnya kita luput melakukan amalan – amalan yang kita anggap kecil dengan baik, karena ingin melakukan yang besar, spektakular, fenomenal.  Sammy menyadarkan saya, kalau takdir saya pada saat itu adalah merawat dia sebagai amalan terakhir saya, maka itulah yang harus saya lakukan dengan sebaik – baiknya….

Tentunya, saya berharap, seperti juga yang lain insya Allah, untuk meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, dengan amalan yang banyak, dengan perbuatan berguna yang bermanfaat untuk orang  banyak. Tapi kita tidak pernah tahu, kesempatan amalan terakhir apa yang akan diberikan pada kita sebelum nyawa dicabut. Bisa jadi memang hal yang besar dan fenomenal….tapi bisa jadi pula hal kecil. Apapun itu, maka tugas kita adalah untuk tidak melewatkan kesempatan itu, besar atau kecil. Untuk memperlakukan semua kesempatan beramal dan berbuat kebaikan, besar atau kecil , sebagai kesempatan untuk meraih ridha Allah.

Seperti surga bagi seorang  pendosa dengan perantaraan kasih sayangnya pada seekor anjing, maka seperti itulah sikap kita seharusnya pada setiap kesempatan amal kebaikan. Jangan pernah dilewatkan, jangan dipilih – pilih karena besar atau kecilnya. Apapun yang Allah hadirkan untuk kita, lakukan dengan sebaik mungkin dan sepenuh hati….mungkin saja, ini amal kebaikan terakhir yang kita lakukan…mungkin saja, ini amal kebaikan yang akan menjadi penentu pengantar kita ke surga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *