Harta Adalah Titipan : Berfikir Manfaat…

Sikap hidup seorang muslim adalah sikap pertengahan. Banyak yang menyampaikan pada saya, “Teh, kalau misalnya kita sadar harta itu milik Allah, kita gak boleh senang – senang, dong !”. Bagi saya ini adalah pernyataan yang mungkin banyak mewakili kekhawatiran untuk hijrah dalam hal mindset tentang uang dan harta.

Secara fitrahnya manusia gemar akan harta benda, emas, dan hal – hal bagus, indah dan menawan lainnya di dunia ini. Tidak ada larangan untuk menikmati dunia ini. Yang ada hanyalah rambu – rambu peringatan umum yang bisa diaplikasikan bagi setiap orang, dalam situasi keuangan yang berbeda – beda. Ada tuntunan tentang halal dan haram yang perlu dipatuhi dalam hal uang dan harta. Sumber yang baik dan halal, penggunaan juga yang baik dan halal. Ada larangan untuk berlaku boros dan berlebih – lebihan, pun demikian ada anjuran untuk menikmati apa yang Allah karuniakan.

Maka perubahan paradigma dari “harta milik saya” ke “harta ini bukan milik saya, ini adalah titipan Allah”, mendorong dan memudahkan kita untuk menundukkan hati dan mengendalikan pikiran dalam berurusan dengan keuangan. Akan mudah untuk berpikir dalam konteks manfaat. Manfaat sendiri mencakup efektifitas dan efisiensi. Dua hal yang menjadi titik perhatian manajemen keuangan dalam tataran negara, perusahaan, UMKM dan juga pribadi. Berpikir manfaat berarti berpikir 🙂 Betapa banyak keputusan – keputusan dalam hal keuangan yang dilakukan tanpa memikirkan manfaat yang kemudian berakhir dengan penyesalan, barang bertumpuk tidak terpakai, pemborosan yang terjadi.

Lebih dari sekedar efisiensi dan efektifitas, berpikir dalam konteks manfaat pun mengundang pahala dan kebaikan – kebaikan lainnya.  Manfaat mendekatkan pada keberkahan. Berpikir manfaat pun akan membuat kita sadar atau tidak sadar akan malu apabila berbuat hal yang sia – sia. Kita akan malu pada Allah apabila dalam menerima amanah titipan harta ini ternyata tidak mampu menundukkan ke”aku”an dan ke”pemilik”an atas harta, dan masih terus saja bersikap sebagai tuan atas harta dan bukan sebagai hamba penerima titipan harta. Kesadaran tentang manfaat ini akan membuat kita lebih mawas diri dan bertanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *